Skip to content
Home » Anak Kurang Percaya Diri Hati Hati ? Ketahui Penyebabnya

Anak Kurang Percaya Diri Hati Hati ? Ketahui Penyebabnya

Anak Kurang Percaya Diri ? Sumber Poto pexels-gustavo-fring-4173118

Anak Kurang Percaya Diri Percaya diri, adalah merasa nyaman tentang diri sendiri dan penilaian orang
lain terhadap diri sendiri. Konsekuensinya, saat seseorang menyebut istilah ‘tidak pede’ adalah bila
ia tak merasa nyaman tentang diri sendiri.

Kepercayaan pada diri sendiri tidak bisa tumbuh dalam satu hari dengan menerapkan cara berpikir
positif. Ia terbentuk sejak bayi. Lingkungan banyak punya andil
membentuknya.

Anak Kurang Percaya Diri? Ketahui Penyebabnya, Yuk!

Anak Kurang Percaya Diri ? Sumber Poto pexels-gustavo-fring-4173118

Anak Kurang Percaya Diri ? Sumber Poto pexels-gustavo-fring-4173118

Jiwa manusia ibarat kendi tabungan. Orang tua, kakek, nenek, teman, guru, tetangga, adalah orang2 di sekitar anak yg mengisi atau bahkan menguras, kendi itu.

Kalau ayah, ibu, kakek, nenek, teman, guru, tetangga memberikan penghargaan, kasih sayang, perhatian, dorongan, dan semua yang positif, kendi itu jadi kencang, indah, dan bersinar.

Sebaliknya, bila yang dilempar hanya kritikan, perbandingan dengan orang lain, cacian, label, kurang perhatian, dan semua yang negatif, kendi itu akan ‘kempot’. “Ibarat tabungan yang terus didebit, jiwa itu mengerut.”

Kepercayaan Diri Anak Usia Dini

Dalam proses tumbuh dari bayi, balita, awal sekolah, praremaja, hingga remaja menghadapi berbagai tantangan. Namun, seringkali orang tua menghindarkan mereka dari tantangan itu. Contoh kecil yg sering terjadi pada anak sudah berumur 7-8 tahun.

Anak seumur itu mulai mandiri, lingkup perhatiannya sudah meluas dan punya pilihan sendiri. “Tapi, si ibu masih saja tetap menyiapkan pakaian untuknya. Akibat anak sering dihindarkan dari tantangan, respek dirinya pun turun. Pada akhirnya, kepercayaan diri rusak

Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Usia Dini

Dalam proses tumbuh dari bayi, balita, awal sekolah, praremaja, hingga remaja menghadapi berbagai tantangan. Namun, seringkali orang tua menghindarkan mereka dari tantangan itu. Contoh kecil yg sering terjadi pada anak sudah berumur 7-8 tahun.

READ THIS :  3 Cara Membersihkan Telinga Anak yang Mengeras

Anak seumur itu mulai mandiri, lingkup perhatiannya sudah meluas dan punya pilihan sendiri. “Tapi, si ibu masih saja tetap menyiapkan pakaian untuknya. Akibat anak sering dihindarkan dari tantangan, respek dirinya pun turun. Pada akhirnya, kepercayaan diri rusak

Dalam waktu sekian lama, pada diri anak pun tumbuh perasaan2 seperti tidak mampu melakukan sesuatu, selalu perlu diarahkan, suka membela diri. “Orang yg harga dirinya rendah ini mudah dieksploitasi. Langkah awal membuat anak percaya diri adalah respek.

Bahasa respek adalah bahasa baik dan bicara secara baik-baik. Ini harus dirasakan anak dan ditunjukkan dengan perbuatan. “Dengan begitu, anak merasa dihargai dan tumbuh pede-nya

Selanjutnya, beri anak kesempatan terus-menerus untuk menguji kemampuan dan belajar dari keberhasilan dan kegagalannya.

Ini menjadi landasan yang kuat bagi harga diri yg diperlukan pada kehidupan usia dewasa. Begitu berhasil mengatasi tantangan2, perasaan positif terhadap diri sendiri pun tumbuh.

Diganjar penghargaan atas prestasinya, anak pun yakin akan kemampuan dirinya. Keyakinan ini memicu konsep diri positif, harga dirinya pun tumbuh positif, dan anak pun jadi percaya diri.

Proses penumbuhan percaya diri tak melulu pada diri anak. Untuk membuat anak percaya diri, orang tua harus percaya diri dulu. Orangtua harus jadi role model yang sehat bagi anak.

Sumber Instagram @talkparenting

Leave a Reply

Your email address will not be published.